الحمد
لله الذى أنعم علينا بنعمة الإيمان و الإسلام, وكتب علينا الصيام الذى هو
ركن من أركان الاسلام, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ أدخرها ليوم الزحام, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الداعى بقوله وفعله إلى دار السلام.
اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدِ وعَلى آلِه
وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظُّلاَمِ. أمَّا بعْدُ,
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:‘Barang siapa datang ke majlis ta’lim di bulan Ramadhan, maka Allah memerintahkan malaikat mencatat setiap langkahnya sebagai pahala ibadah satu tahun penuh. Dan Aku (Kanjeng Nabi Muhammad saw) akan bersamanya pada hari kaimat nanti di bawah Arasy-NYa.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda :
“barang siapa memberi buka puasa kepada orang lain hinnga kenyang, Allah akan mengampuni dosa-dosanya, dan kelak di akhirat nanti Allah akan memberinya minuman penolak dahaga hingga masuk surga. Dan orang itu juga mendapatkan pahala sebagaimana pahala mereka yang diberinya makanan berbuka tanpa terkurangi sedikit saja".
Bukankah semua itu hanya ada di Ramadhan saja? andaikan mereka memahami hikmah yang terkandung di dalam Ramadhan, pastilah mereka akan mengharap semua bulan menjadi Ramadhan, begitu kata rasulullah saw
لَوْتَعْلَمُ
اُمَّتىِ مَا فِى رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا اَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا
رَمَضَانَ, لِأَنَّ الْحَسَنَةَ فِيْهِ مُجْتَمِعَةُ وَالطَّاعَةِ
مَقْبُولَةُ وَالدَّعَوَاةِ مُسْتَجَابَةُ وَالذُّنُوْبَ مَغْفُوْرَةُ
وَاْلْجنَّةُ مُشْتَاقَةُ لَهُمْ
Andaikata umatku tahu yakni mengerti apa yang terkandung dalam
ramadhan, maka mereka akan mengharapkan satu tahun itu akan menjadi
bulan Ramadhan. Karena di dalam Ramadhan semua kebaikan dikumpulkan,
semua ketatan diterima (Allah) semua do’a dikabulkan, dos-dosa
diampunkan. Dan sorga-sorga merindukan mereka.Satu minggu bulan ramadhan telah berjalan, sudah tujuh hari puasa kita jalankan. Makan sahur di malam hari menahan lapar disiang hari hingga maghrib menjelang.
Apakah perubahan yang telah kita rasakan?
Adakah perubahan itu begitu jelas menjelma dalam amal-amal yang kita lakukan?
atau kita hanya merasa lapar dan kehausan saja, tanpa ada perubahan?
Marilah, mumpung puasa baru satu minggu. Mari kita intropeksi diri kita masing-masing apakah kita telah menemukan hikmah puasa ramadhan kali ini?
Tentunya jawabnya ada pada diri kita masing-masing. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan…
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ
“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.Dalam haditsnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam meyebut puasa sebagai pintu ibadah. Nabi bersabda:
لكل شيء باب وباب العبادة الصوم أخرجه ابن المبارك في الزهد ، ومن طريقه أبو الشيخ في الثواب من حديث أبي الدرداء
Segala sesuatu ada dipintu masuknya, dan pintu ibadah adalah puasa.
Hal ini menimbang penting dan kegunaan ibadah puasa ini, maka ia kerap
diberlakukan sebagai ibadah terapis sebagai penangkal tumbuh liarnya
nafsu syahwat libido, misalnya dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari
Ibn Mas’ud, dapat kita telaah anjuran Rasulullah Muhammad kepada para
pemuda yang belum memiliki persiapan matang untuk menikah, dianjurkan
untuk berpuasa, yang dalam bahasa beliau disebut sebagai Wija’ (alat
kendali).Dalam telaah Sayyid Haidar Al-Amuly misalnya, penulis kitab Asrararus Syariah wa Athwarul Thariqah wa Anwarul Haqiqah, puasa disebut sebagai pintu ibadah dikarenakan ia berfungsi terhadap dua hal. Pertama, puasa dapat mencegah sesuatu yang dilarang agama dan kedua, puasa adalah bentuk penyerangan terhadap godaan setan. Detailnya adalah sebagai berikut.
Pertama, puasa berpotensi mencegah hal-hal yang dilarang, mencegah diri dari nafsu syahwat dan bahwa puasa itu adalah ibadah eksklusif, yakni ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. Berbeda dengan shalat, zakat dan ibadah selain keduanya yang masih mungkin dilihat sesama, sehingga dikhawatirkan tersusupi perasaan bangga dan bertindak pamer. Padahal bukankah telah maklum, bahwa keduanya adalah penyebab utama tertolaknya suatu ibadah dan ketaatan.
Kedua, puasa adalah sebentuk penyerangan terhadap setan, sebagai musuh Allah dan kita semua. Disebut menyerang setan, karena ia tidak akan mampu menggoda manusia, kecuali dengan jalan pemenuhan nafsu syahwat. Nah, rasa lapar dan dahaga adalah upaya preventif untuk menaklukkan segala nafsu syahwat yang tidak lain adalah piranti setan untuk menggoda manusia.
Oleh karena itu Jika piranti ini ditiadakan, adalah menjadi niscaya pula hilangnya aktivitas godaan itu. Karena itu, Nabi Muhammad bersabda :
“ Sesungguhnya setan itu menyusuri putra Adam, sebagaimana aliran darah, maka sempitkan alirannya dengan lapar.”
Dengan hadits ini, kita dapat memahami makna hakikat hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Maka berserulah seorang penyeru : “Hai siapa yang menginginkan kebaikan datanglah! Dan siapa yang ingin (melakukan) kejahatan, cegahlah dirimu!
(H.R. Turmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Dari kesimpulan dua hadits di atas, kiranya telah jelas bahwa yang dimaksud setan dibelenggu, lebih mengena diartikan bahwa peluang dan piranti setan untuk menggoda manusia di bulan puasa Ramadan benar-benar ditutup, dikendalikan dengan terapi lapar manusia yang berpuasa. Dengan ditutupnya peluang melakukan dosa bermakna neraka siksaan telah pula ditutup dan yang tinggal kemudian adalah bekerjanya nurani manusia untuk kembali pada jalan Allah yang membawanya menuju surga keridhaan Allah Ta’ala.
Kesimpulannya bahwa semuanya kemudian kembali pada pribadi kita masing-masing untuk mengetuk dan mau membuka pintu ibadah ini. Kita sambut dan jemput dengan gempita peluang berharga yang dihadiahkan Allah Ta’ala ini, yang dengan puasa ini, ibadah-ibadah atau penghambaan yang lain menjadi terbuka dan mudah untuk dimakna dan dijalankan.

